“Itu di data seluruhnya. Jadi seluruh aktivitas ekonomi yang mencari keuntungan atau untuk hidup didata di Sensus Ekonomi 2026,” jelasnya.
Kedua data Sensus Ekonomi 2026 ini ingin mengetahui struktur ekonomi. “Jadi kami akan merubah struktur ekonomi atau PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) ingin diketahui. Dengan hasil sensus ini kami ingin merubah tahun dasar penghitungan PDRB untuk pertumbuhan ekonomi. Itu ada sekitar 25 kategori lapangan usaha,” paparnya.
Eko sapaan akrabnya menyebut Sensus Ekonomi 2026 merubah dasar struktur ekonomi yang sebelumnya dilakukan tahun 2010. “Kami merubah lagi di tahun 2026,” ungkapnya.
Kemudian BPS ingin membangun database bisnis register atau registrasi usaha.
Jadi kalau Online Single Submission (OSS) punya Nomor Induk Berusaha (NIB), kemudian kalau pajak yang punya Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP), diambil semua datanya.
Di cek di lapangan bisa saja usaha yang sudah ada NIB itu saat ini tidak lagi berusaha di lapangan.
Data ini untuk kebutuhan BPS yang dijadikan kerangka sampel apabila melakukan survei-survei ekonomi di Muratara.
Kemudian BPS melakukan pendataan ekonomi keluarga. “Jadi ada 4 tujuan SenSus Ekonomi. Ini adalah paket lengkap. Memang berat sekali tugas petugas BPS. Tugas berat, selain menata ekonomi keluarga, data usaha, data tentang aktivitas yang sifatnya mencari keuntungan,” paparnya.
Saat melakukan sensus, petugas bertanya kepada seluruh anggota keluarga. Bisa dibayangkan kalau dalam satu keluarga itu semua punya usaha. Misalnya bapaknya usaha, anak-anaknya punya usaha semua, ada 4 usaha maka akan kami data 4 usaha itu.
Lebih lanjut Eko menerangkan, jadi mengapa Sensus Ekonomi 2026 ini jadi tahun dasar 2010-2026 karena konten kreator termasuk ada ekonominya.
Jadi kenapa dilakukan perubahan tahun dasar 2010-2025 bisa dibayangkan aktivitas ekonomi di 2010 dan 2026 yang mendasar tadi pembayaran elektrik.
Ada perubahan-perubahan cara bayar, ada perubahan struktur ekonomi. Termasuk konten kreator-konten kreator yang monetisasi juga dijadikan target Sensus Ekonomi.
Eko mengakui tim sensus kesulitan untuk mencairnya karena konten kreator tidak ada tempatnya beda dengan usaha ekonomi lainnya seperti toko ada tempatnya.
“Memang kami cukup kesulitan untuk mencari ini (konten kreator) karena fisiknya tempat usahanya tidak ada. Tidak ada tempat, kan susah. Mereka online saja,” akunya.
Untuk itulah petugas Sensus Ekonomi door to door mendatangi rumah warga, wawancara langsung kepada keluarga dan anggota keluarga.
Diharapkan warga memberikan jawaban yang jujur. Harapan kita seperti itu. Kalau dia menghasilkan konten kreator. Ada beberapa influencer atau konten kreator lokal sudah kami menghubungi diantaranya As Muratara ada di facebook.
“Mungkin dari sana kami bisa menggali informasi konten kreator lain,” ungkapnya.
Untuk menelusuri konten kreator dibutuhkan inovasi. Pencarian usaha online perlu inovasi melalui web scripting dan sebagainya.






