Kepala BPS Lubuk Linggau Imbau Tak Takut di Sensus Ekonomi

oleh -5 Dilihat
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lubuk Linggau, Uray Noviandi menyampaikan capaian pendataan lapangan SE 2026 hingga pertengahan Juli 2026, Rabu 15 Juli 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lubuk Linggau, Uray Noviandi menyampaikan capaian pendataan lapangan SE 2026 hingga pertengahan Juli 2026, Rabu 15 Juli 2026.

KORANLIPOS.COM  – Sensus Ekonomi (SE) tahun 2026 sudah dilaksanakan 1 bulan. SE sendiri dilaksanakan dari 15 Juni 2026 hingga 31 Agustus 2026.

Di Kota Lubuk Linggau ini, hingga pertengahan Juli 2026 capaian pendataan lapangan SE 2026 sudah mencapai 52,89 persen. Capaian ini melebih target yang yang ditetapkan secara nasional, 40 persen dipertengahan Juli.

Data ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lubuk Linggau, Uray Noviandi, Rabu 15 Juli 2026.

Uray Noviandi menjelaskan, dalam pelaksanaan pendataan dilapangan pihaknya menerjunkan sebanyak 194 petugas sensus yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan di Lubuklinggau. Dengan rincian, 170 petugas pendata lapangan dan 24 petugas pemeriksa.

Secara rinci capaian pendataan lapangan SE perkecamatan disebutnya, Kecamatan Lubuk Linggau Barat I 48,66 persen. Kecamatan Lubuk Linggau Barat II 53,48 persen. Kecamatan Lubuk Linggau Selatan I 51,48 persen. Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II 53,68 persen. Kecamatan Lubuk Linggau Timur I 51,51 persen. Kecamatan Lubuk Linggau Timur II 57,41 persen. Kecamatan Lubuk Linggau Utara I 54,14 persen dan Kecamatan Lubuk Linggau Utara II 53m43 persen.

“Dapat dilihat, dalam waktu 1 bulan pendataan lapangan, Kecamatan Lubuk Linggau Timur II tertinggi dengan capaian 57,41 persen. Sedangkan terendah di Kecamatan Lubuk Linggau Barat I,” kata Uday Noviandi pada Rabu, 15 Juli 2026.

Uray mengakui, ada beberapa kendala maupun tantangan yang dihadapi petugasnya saat pendataan dilapangan.

“Yang terbanyak kendalanya dan sering dijumpai petugas, yakni adanya penolakan dari masyarakat. Dan penolakan ini banyak faktornya, mulai dari takut di sensus. Tidak mau memberikan data karena alasan privasi terutama mereka yang kalangan menengah keatas, takut dikenakan pajak hingga takut Bansos dihapus. Kendala lainnya juga karena sosialisasi yang minim, dan itu kami akui karena adanya efesiensi anggaran serta faktor lainnya seperti sakit, responden tidak dirumah hingga cuaca,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.