Ketua Tim Pengabdian UNMURA, Sumini, menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh kondisi awal usaha pekarangan anggota KWT Cindai yang masih dikelola secara konvensional dan terpisah.
Budidaya sayuran dan pemeliharaan ayam skala rumah tangga berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya pemanfaatan limbah yang optimal.
“Sebelumnya, para anggota menghadapi kendala tingginya ketergantungan pada pupuk kimia dan pakan pabrikan, yang berujung pada tingginya biaya produksi. Ditambah lagi, kotoran ayam dan limbah sisa sayuran dibuang begitu saja tanpa diolah. Melalui program ini, kami mencoba menyatukannya dalam satu siklus produksi terpadu,” ujar Sumini saat diwawancara KORANLINGGAUPOS.ID, Sabtu 4 Juli 2026.
Menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), tim UNMURA tidak hanya memberikan sosialisasi dan pelatihan materi, tetapi juga melakukan demonstrasi plot (demplot) pembuatan kompos, Pupuk Organik Cair (POC), hingga formulasi pakan tambahan berbasis limbah tanaman.










