Titik-titik tersebut umumnya hanya muncul sesaat dan kemudian menghilang kembali.
“Bisa saja berasal dari aktivitas masyarakat yang membakar sampah atau membersihkan lahan kebun. Hal itu menambah titik api dan menghasilkan asap dalam waktu tertentu,” jelasnya.
Ardi menilai kabut asap yang saat ini dirasakan masyarakat Lubuk Linggau lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan massa udara dari daerah lain yang tengah mengalami kebakaran lahan.
Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara dan kondisi cuaca, sumber asap yang memengaruhi Kota Lubuk Linggau bukan berasal dari wilayah kota tersebut.
BACA JUGA : Dampak Kabut Asap Karhutla, Disdik Musi Rawas Berlakukan Pembelajaran Daring
Ia menyebutkan sejumlah daerah di Sumatera Selatan seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin hingga Kota Palembang saat ini menghadapi kondisi kabut asap yang cukup pekat.
Bahkan, kualitas udara di beberapa wilayah dilaporkan telah mencapai tingkat yang sangat berbahaya.
Meskipun demikian, Ardi berharap kondisi cuaca dapat segera membaik.
“Semoga kualitas udara berpotensi mulai mengalami perbaikan dalam kurun waktu sekitar satu minggu ke depan apabila kondisi cuaca dan arah angin mendukung,” harapnya.





