Untuk mencapai lokasi, pengunjung menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Lubuk Linggau, lalu berjalan kaki sejauh 1 kilometer menyusuri persawahan dan hutan hijau yang masih alami.
Selain memperkuat daya tarik wisata, jembatan biru ini berperan penting sebagai penghubung antara kawasan pertanian dan pemukiman warga.
Sebelumnya, masyarakat harus berhati-hati melewati jembatan lama yang kondisinya memprihatinkan. Kini, dengan jembatan baru yang kokoh, rasa waswas itu hilang.
“Senanglah apo lagi sudah dibuat kokoh ini, kalau untuk motor 10 be melintas dijembatan ini dak kan potos,” ungkap Suwarno (51), seorang petani setempat.
Ia menambahkan, pembangunan jembatan berlangsung cepat setelah jembatan lama putus, sehingga akses menuju kebun kembali lancar.
“Sudah dibangun cak ini aman ini, kami nak kekebun lancar. Kami dak takut lagi dan tidak gantian lagi nak lewat ke sawah maupun kebun,” tegasnya.
Dengan berdirinya jembatan biru, Sungai Malus Batu Pepe tidak hanya menjadi destinasi wisata unggulan, tetapi juga simbol kemajuan infrastruktur yang mendukung kehidupan masyarakat sekitar.
Kehadiran jembatan ini menandai komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pariwisata sekaligus memastikan kelancaran aktivitas ekonomi warga, khususnya para petani yang menggantungkan hidup pada akses transportasi yang aman dan memadai.





