“Jadi, kalau kuota ditambah tetapi penyalurannya tidak maksimal atau bahkan terjadi penyalahgunaan, tentu itu tidak akan menyelesaikan persoalan,” cetusnya.
Oleh karena itu, pihaknya melakukan verifikasi volume di lapangan. Jika memang perlu penambahan kuota, tentu akan ditambah.
Tetapi, lanjut Hasby, kalau kuota ditambah sementara kemampuan penyalurannya terbatas, misalnya jumlah nozzle sedikit, tentu tetap tidak akan efektif.
“Untuk triwulan ketiga, kalau tidak salah memang sudah ada penambahan kuota untuk Sumatera Selatan. Nanti saya cek kembali angka pastinya,” ungkapnya lagi.
Terkait usulan sekitar 2,8 juta kl yang diajukan kabupaten/kota dan realisasi yang diterima hanya 630.963 kl, menurut Hasby, konsep penyaluran BBM subsidi itu ada dua jalur. Yaitu melalui SPBU dan melalui sektor tertentu seperti petani maupun transportasi, misalnya kapal.
“Kalau jumlah SPBU yang menyalurkan di Sumatera Selatan tidak mencukupi, bagaimana penyalurannya bisa maksimal? SPBU yang tersedia memang jumlahnya terbatas.
Jadi, meskipun kuota ditambah, kalau kapasitas penyalurannya tidak memadai, tetap tidak akan efektif,” selorohnya.





