Padahal, siswa dengan kesulitan tertentu dalam proses belajar maupun aktivitas sehari-hari juga dapat membutuhkan layanan pendidikan inklusif.
Sebagai contoh, ada anak yang secara fisik terlihat normal, tetapi mengalami kesulitan dalam membaca, tidak mampu memasang tali sepatu, membuka kemasan makanan atau melakukan aktivitas sederhana lainnya.
“Jadi bukan berarti anak inklusif itu anak yang cacat. Ada anak yang secara fisik normal, tetapi memiliki kebutuhan tertentu yang berbeda dengan anak lainnya,” jelasnya.
Januria juga menemukan siswa yang mengalami kesulitan berkonsentrasi, hiperaktif, disleksia hingga siswa dengan kondisi medis tertentu.
BACA JUGA : Dosen Pendidikan Biologi UNPARI Dampingi Guru SMPN Suka Raya Musi Rawas
Dalam menghadapi kondisi tersebut, guru harus terlebih dahulu melakukan identifikasi agar dapat menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.
Ia mencontohkan seorang siswa yang mengalami kondisi medis hidrosefalus dan memiliki kesulitan dalam mengikuti aktivitas menulis.
Ketika diminta menulis berulang kali, siswa tersebut mudah kehilangan minat.
Untuk mengatasinya, guru mencoba mencari aktivitas yang disukai siswa.







