Anak Inklusif Bukan Berarti Cacat, Guru SDN 49 Lubuk Linggau Ungkap Tantangan di Kelas

oleh -7 Dilihat
Guru inklusi SDN 49 Lubuk Linggau, Januria, S.Pd., saat mendidik siswa siswinya. Foto: Mukmin Hidayat/Linggau Pos.

Padahal, siswa dengan kesulitan tertentu dalam proses belajar maupun aktivitas sehari-hari juga dapat membutuhkan layanan pendidikan inklusif.

Sebagai contoh, ada anak yang secara fisik terlihat normal, tetapi mengalami kesulitan dalam membaca, tidak mampu memasang tali sepatu, membuka kemasan makanan atau melakukan aktivitas sederhana lainnya.

“Jadi bukan berarti anak inklusif itu anak yang cacat. Ada anak yang secara fisik normal, tetapi memiliki kebutuhan tertentu yang berbeda dengan anak lainnya,” jelasnya.

Januria juga menemukan siswa yang mengalami kesulitan berkonsentrasi, hiperaktif, disleksia hingga siswa dengan kondisi medis tertentu.

BACA JUGA : Dosen Pendidikan Biologi UNPARI Dampingi Guru SMPN Suka Raya Musi Rawas

Dalam menghadapi kondisi tersebut, guru harus terlebih dahulu melakukan identifikasi agar dapat menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

Ia mencontohkan seorang siswa yang mengalami kondisi medis hidrosefalus dan memiliki kesulitan dalam mengikuti aktivitas menulis.

Ketika diminta menulis berulang kali, siswa tersebut mudah kehilangan minat.

Untuk mengatasinya, guru mencoba mencari aktivitas yang disukai siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.