Menurut cerita, keinginan menghadirkan nuansa Tanah Suci muncul karena sulitnya menyentuh Hajar Aswad saat berada di Makkah. Dari pengalaman tersebut lahirlah gagasan membangun masjid dengan konsep menyerupai Ka’bah agar masyarakat dapat merasakan suasana yang mengingatkan pada Masjidil Haram.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga diharapkan menjadi sarana melepas kerinduan bagi umat Islam yang pernah beribadah di Tanah Suci maupun yang bercita-cita menunaikan ibadah haji.
Di halaman masjid juga terdapat sejumlah replika bernuansa sejarah Islam, seperti replika kendaraan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim serta replika Pedang Zulfikar, sehingga menambah daya tarik bagi para pengunjung.
Keberadaan Masjid MIA AL NASRI kini mulai dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Musi Rawas. Banyak pengendara yang melintas di Desa Semeteh sengaja berhenti untuk beristirahat, beribadah, sekaligus mengabadikan momen di depan bangunan yang unik tersebut.
Bahkan tidak sedikit pengunjung yang datang khusus dari luar daerah hanya untuk melihat secara langsung replika Ka’bah dan menikmati suasana religius yang ditawarkan masjid ini.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan dari Kota Lubuklinggau atau sekitar satu setengah jam dari Muara Beliti, ibu kota Kabupaten Musi Rawas.





