Aji menambahkan, dibandingkan metode budidaya konvensional yang mengharuskan petani menanam bibit baru, top working jauh lebih efisien. Selain mempercepat waktu berbuah, biaya peremajaan kebun juga lebih hemat karena tidak perlu membongkar seluruh tanaman lama.
“Kalau konvensional akar masih harus berkembang dari awal sehingga waktu berbuah lebih lama. Sedangkan top working memanfaatkan akar yang sudah kuat sehingga pertumbuhan lebih cepat,” ungkapnya.
Keunggulan lainnya, lanjut Eko, adalah tingkat keberhasilan penyambungan yang tinggi apabila dilakukan dengan teknik yang benar. Produksi kebun juga dapat kembali pulih lebih cepat, sementara kualitas buah akan mengikuti karakter varietas unggul yang digunakan sebagai entres.
Metode ini dapat diterapkan pada hampir semua varietas durian, selama batang bawah dalam kondisi sehat, tidak terserang penyakit berat, serta menggunakan entres berkualitas dari pohon induk unggul. Beberapa varietas yang banyak digunakan antara lain Musang King, Bawor, Duri Hitam (Black Thorn), maupun varietas premium lainnya.
Meski demikian, keberhasilan top working tetap dipengaruhi oleh teknik penyambungan, kompatibilitas antara batang bawah dan entres, serta perawatan setelah proses grafting dilakukan.
“Sanitasi alat harus bersih, teknik sambung harus benar, pemangkasan lanjutan harus dilakukan dengan baik, pemupukan seimbang, serta pengendalian hama dan penyakit harus diperhatikan,” jelas Eko.
Ia menegaskan, apabila seluruh tahapan dilakukan secara tepat, top working menjadi salah satu solusi paling efektif dalam meremajakan kebun durian tanpa harus menunggu bertahun-tahun seperti menanam bibit baru.
“Metode ini mampu meningkatkan mutu buah dari durian lokal menjadi durian premium, mempercepat masa panen, meningkatkan produktivitas, sekaligus menaikkan nilai jual hasil panen petani,”tegasnya.






