Melalui gerak yang dinamis dan riang, “Betenun” mengajak kita berhenti sejenak.
Merenungi bahwa di tengah derasnya modernitas, ada benang-benang halus bernama tradisi yang tak boleh terputus.
Bagi gadis-gadis ini, tenun bukan hanya kain.
Setiap tarikan benang adalah doa yang dijalin, setiap motif adalah harapan yang diikat, agar warisan ini hidup, lestari, dan terus menenun masa depan.(Sulis)








