Hal itu dilakukan karena atraksi Tari Piring Gelas tergolong unik dan menantang. Penari akan menari di atas susunan piring yang diletakkan di atas gelas secara bertingkat, sehingga membutuhkan keseimbangan dan ketelitian yang tinggi.
“Karena penampilannya seperti akrobatik, dulu harus ada pawang yang mendampingi. Sebelum tampil biasanya pawang membacakan mantra,” jelasnya.
Seiring perkembangan zaman, unsur ritual dalam Tari Piring Gelas mulai ditinggalkan. Kini tarian tersebut lebih mengedepankan nilai seni pertunjukan dengan mengandalkan kemampuan teknik para penarinya.
Erwina mengatakan, banyak masyarakat yang mengira susunan piring dan gelas direkatkan menggunakan lem agar tidak mudah bergeser. Padahal, seluruh peralatan tersebut disusun tanpa perekat.
“Semuanya murni menggunakan teknik dan keseimbangan. Tidak ada lem sama sekali. Penari harus benar-benar menguasai teknik agar bisa berdiri dan menari di atas susunan piring dan gelas,” ujarnya.
Perubahan juga terjadi pada jumlah penari. Jika dahulu Tari Piring Gelas hanya dibawakan oleh seorang penari karena berkaitan dengan ritual, kini tarian tersebut dapat dimainkan oleh dua hingga tiga orang.
“Dua penari lainnya berperan sebagai dayang yang membantu menjaga keseimbangan saat pertunjukan berlangsung,” jelas Erwina.
Menurutnya, penetapan Tari Piring Gelas sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian budaya daerah. Pengakuan tersebut diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan terus melestarikan salah satu identitas budaya khas Musi Rawas agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.





