KORANLIPOS.COM – Orang tua diingatkan untuk mampu mengelola emosi saat menghadapi anak. Pasalnya, kebiasaan membentak, memukul, atau memarahi anak secara berlebihan dapat berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis hingga fungsi otak anak.
Psikolog Irwan Tony, M.Psi, menjelaskan bahwa dari sisi neurobiologi, bentakan yang terus-menerus diterima anak dapat memengaruhi hubungan antarsel saraf (sinapsis) di otak.
“Ketika kita marah dan sering membentak anak, ada risikonya. Dari sisi neurobiologi, bentakan yang berulang dapat memengaruhi perkembangan koneksi antarsel saraf. Dampaknya, anak bisa menjadi penakut, pendiam, tidak percaya diri, bahkan mengalami gangguan dalam perkembangan emosinya,” ujar Irwan.
Menurutnya, pemahaman mengenai dampak tersebut akan membuat orang tua lebih berhati-hati dalam mengendalikan emosi ketika mendidik anak.
Ia menyarankan agar orang tua mengambil jeda ketika emosi mulai memuncak. Setelah merasa tenang, barulah mendekati anak untuk berdialog mengenai kesalahan yang dilakukan.
“Ambil jeda dulu, tarik napas, tenangkan diri. Setelah itu baru ajak anak bicara. Yang kita koreksi adalah perilakunya, bukan kepribadian anak. Jangan memberi label bahwa anak itu nakal atau buruk, tetapi jelaskan bahwa perilaku tertentu yang tidak kita sukai,” katanya.
Dalam mendisiplinkan anak usia sekolah dasar, Irwan menyarankan orang tua membuat aturan yang jelas di rumah. Anak perlu mengetahui konsekuensi jika melanggar aturan, sekaligus mendapatkan penghargaan ketika menunjukkan perilaku yang baik.
“Kalau anak SD, aturan harus jelas. Kalau melakukan kesalahan ada konsekuensinya, tetapi ketika melakukan hal baik juga perlu diberikan reward. Reward tidak harus berupa barang, bisa pujian, makanan favorit, atau kesempatan bermain,” jelasnya.





