Sementara untuk anak usia SMP dan SMA, pendekatan yang dilakukan sebaiknya lebih mengedepankan dialog daripada hukuman atau kemarahan.
“Remaja membutuhkan ruang untuk berdiskusi. Mereka ingin dihargai pendapatnya. Kalau hanya dimarahi, justru akan muncul penolakan,” ujarnya.
Irwan juga menjelaskan tanda-tanda orang tua mulai kehilangan kendali terhadap emosinya, seperti muncul keinginan memukul, mencubit, menampar, atau melakukan tindakan fisik lainnya kepada anak.
Apabila kondisi tersebut mulai dirasakan, ia menyarankan agar kemarahan dialihkan ke media lain yang tidak membahayakan.
“Kalau emosi sudah memuncak, jangan dilampiaskan ke anak. Bisa dipindahkan dengan meremas kertas, memukul bantal, atau berteriak di tempat yang aman. Setelah emosi mereda, baru temui anak,” katanya.
Menurut Irwan, apabila orang tua terlanjur membentak atau memarahi anak, langkah terbaik adalah berani meminta maaf dan memperbaiki hubungan.
“Jangan takut meminta maaf kepada anak. Katakan bahwa ayah atau ibu salah karena terbawa emosi. Setelah itu ajak anak berdialog, cari tahu penyebab perilakunya, lalu buat kesepakatan bersama agar sama-sama berubah menjadi lebih baik,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa orang tua merupakan teladan utama bagi anak. Karena itu, sikap yang ditunjukkan orang tua setiap hari akan menjadi contoh yang ditiru anak dalam mengelola emosinya.
“Anak belajar dari apa yang dilihat. Kalau orang tua mampu mengendalikan emosi, berbicara dengan tenang, dan menyelesaikan masalah melalui dialog, maka anak juga akan tumbuh dengan kemampuan mengelola emosi yang baik,” ungkapnya.
Psikolog Irwan Tony Ungkap Dampak Buruk Bentakan Pada Otak Anak





