Ditengah gencarnya pemberitaan tentang pesantren saat ini yang beredar di masyarakat, ia menegaskan komitmen Ponpes Al Madani yang telah berjalan sejak awal berdirinya sampai saat ini, adalah sangat protektif terhadap batas-batas pergaulan antara santri dengan guru atau sesama santri yang berbeda gender.
Ia mengatakan, laki-laki dan perempuan, baik santri kepada sesama santri maupun kepada guru yang berbeda gender, tidak boleh saling bersentuhan dan berjabat tangan, dan tidak boleh bertemu berdua saja, mesti ada santri atau guru lain yang mendampingi.

Penyampaian syair tentang keutamaan menuntut ilmu oleh 3 santriwati Ponpes Al Madani.
Dalam mendidik santri baru, pihaknya memasang target 6 bulan yang berfokus pada pembinaan santri, mulai dari belajar sholat, membaca Al Qur’an, pembinaan akhlak dan adab.
Alumni Ponpes Al Amien Prenduan ini kemudian menjelaskan secara umum sistem pembelajaran di pesantren dan kegiatan harian di pondok.
Ia menyampaikan kepada wali santri, bahwa santri baru setelah hari ini tidak boleh dijenguk sampai dengan tanggal 17 Agustus 2026, dan wali santri baru bisa bertemu anaknya pada 18 Agustus 2026 di momen Apel Tahunan.
Pengasuh Keputrian Ponpes Al Madani, Ummi Erma Yunita, menambahkan, bahwa penilaian pertama belajar di Ponpes Al Madani adalah akhlak.
Jika ada santri yang memiliki nilai akademik yang tinggi, tapi akhlaknya buruk, maka nilainya bisa jatuh.
Ia juga mengingatkan santri baru untuk tidak melakukan 6 pelanggaran selama mondok, yaitu membully, berkelahi, mencuri, pacaran, merokok dan minggat. Karena phak pondok akan memberikan sanksi yang tegas bagi santri yang melakukan pelanggaran.
Karena Pesantren Al Madani sangat menjunjung tinggi komitmen sebagai Pesantren Ramah Anak.
Ia meminta wali santri untuk bekerjasama dengan pihak pondok dalam mendidik anaknya, salah satunya dengan selalu mendoakan anak.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima santri dari orang tua kepada Pimpinan Pondok, yang diwakili oleh salah satu wali santri dan santri MTs.
Abi Arpan kemudian menyerahkan secara simbolis Al Qur’an dan perlengkapan belajar kepada santri.
Saat dibincangi wartawan KORANLINGGAUPOS.ID usai acara, Abi Arpan mengaku senang Ponpes Al Madani tetap eksis di masyarakat.
“Alhamdulillah saat ini Ponpes Al Madani tetap eksis dengan menerima santri kelas VII MTs sebanyak 2 kelas, dan santri kelas X MA 1 kelas, dengan rincian kelas VII MTs sebanyak 50 santri dan kelas X MA sebanyak 31 santri.
Kami masih menerima siswa baru sampai dengan akhir Juli 2026,” ungkapnya.
Alumni S2 IAIN Curup ini mengatakan, santri tidak hanya berasal dari Kota Lubuk Linggau, Musi Rawas dan Muratara saja, tetapi juga dari provinsi Jambi, Kabupaten Empat Lawang, Musi Banyuasin, dan Rejang Lebong.
Ia mengungkapkan bahwa Ponpes Al MAdai ini berkiblat ke Ponpes Al Amien Prenduan Madura, jadi buku-buku pelajaran bersumber dari Ponpes Al Amien Madura.
Rata-rata guru yang mengajar berasal dari beberapa Pondok Pesantren, seperti Ponpes Al Amien, Ponpes Modern Darussalam Gontor, dan Ponpes Nurul Iman di Parung Bogor.
Mulai Senin 13 Juli 2026, santri akan mengikuti kuliah umum kepondokan selama 3 hari, yang diisi dengan pengenalan mengenai apa itu pondok pesantren, sistem belajar, panca jiwa pondok dan tentang pengenalan madrasah.
Ia berpesan kepada santri baru, untuk meluruskan dan kuatkan niat dalam menuntut ilmu di pondok.
“Bahwa masuk pesantren itu syaratnya adalah kami dengar dan kami patuh. Patuh terhadap apa yang disampaikan dan diajarkan oleh Pimpinan pondok dan guru,” tutupnya.





