Perubahan Istilah Pendidikan Tegaskan Paradigma Baru, Sekolah Diminta Memuliakan Murid

oleh -25 Dilihat
Pengawas Utama Madya Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas, Suyanto, SIP., M.Pd
Pengawas Utama Madya Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas, Suyanto, SIP., M.Pd

Konsep memuliakan murid dapat diterapkan melalui pembelajaran yang kontekstual dan berbasis hak anak. Salah satunya melalui pembelajaran berdiferensiasi, yakni guru mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat dan kecepatan belajar setiap peserta didik tanpa diskriminasi.

Selain itu, asesmen formatif perlu dimaknai sebagai sarana memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses belajar, bukan sebagai alat untuk membandingkan atau mempermalukan murid.

Murid juga diberikan ruang untuk berpartisipasi aktif melalui kesempatan menyampaikan pendapat (voice), memilih atau menentukan proses belajarnya (choice), serta memiliki rasa kepemilikan terhadap proses pembelajaran (ownership).

“Ini merupakan hakikat memuliakan murid dalam pendekatan pembelajaran mendalam sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses,” katanya.

Dalam penerapan disiplin, Suyanto mengatakan sekolah juga diarahkan menggunakan pendekatan yang mengedepankan pembinaan karakter dan perlindungan peserta didik dari kekerasan.

Disiplin positif dapat diterapkan melalui restitusi, kesepakatan kelas dan pemahaman logis terhadap konsekuensi dari suatu tindakan. Tujuannya membangun kontrol diri dari dalam diri murid, bukan menciptakan kepatuhan karena rasa takut.

Menurutnya, hukuman fisik, verbal yang merendahkan martabat maupun perundungan tidak dapat dijadikan bagian dari proses pendidikan. Pelanggaran disiplin perlu ditangani melalui bimbingan konseling dan pendekatan edukatif yang restoratif.

Dalam konsep lima posisi kontrol guru, posisi yang diharapkan adalah guru sebagai manager, atau setidaknya sebagai pemantau. Guru tidak ditempatkan sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah maupun sekadar teman bagi murid.

Suyanto mengakui penerapan paradigma baru tersebut tidak mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan pola pikir guru, dari pendekatan tradisional yang mengandalkan kepatuhan instan melalui ancaman atau hukuman menuju pendekatan dialogis berbasis disiplin positif.

Guru juga dituntut mengubah pola pikir tetap (fixed mindset) menuju pola pikir bertumbuh (growth mindset) sebagai salah satu dasar filosofis pembelajaran mendalam.

Selain perubahan pola pikir, guru menghadapi tantangan dalam mengelola pembelajaran berdiferensiasi di tengah keberagaman jumlah, karakter, kemampuan dan kebutuhan peserta didik di dalam kelas.

Karena itu, menurut Suyanto, diperlukan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan agar guru memiliki kapasitas dalam mengelola interaksi kelas tanpa kekerasan, menerapkan disiplin positif serta merancang asesmen yang benar-benar berpusat pada murid.

“Perubahan paradigma ini membutuhkan proses. Guru perlu terus didampingi agar mampu menerjemahkan regulasi dan konsep baru tersebut ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.