Penemuan Kepala Kala di Bingin Jungut Musi Rawas, Ungkap Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Musi Rawas

oleh -7 Dilihat
Kepala Kala, peninggalan sejarah yang ditemukan di Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas
Kepala Kala, peninggalan sejarah yang ditemukan di Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas

Dalam tradisi Hindu, Kala dikenal sebagai putra Dewa Siwa yang melambangkan waktu sekaligus simbol bahwa manusia tidak dapat menghindari hukum karma. Ornamen ini lazim ditempatkan di bagian atas pintu masuk bangunan suci atau candi.

Di kawasan Bingin Jungut sendiri diketahui terdapat dua lokasi candi yang berada di sisi kanan dan kiri Sungai Musi. Namun, para peneliti masih perlu melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah kedua lokasi tersebut merupakan dua kompleks candi yang berbeda atau bagian dari satu kompleks yang sama.

Keberadaan Kepala Kala di Bingin Jungut dinilai menarik karena diduga mencerminkan adanya akulturasi budaya Hindu dan Buddha pada masa lampau.

Dugaan tersebut diperkuat dengan temuan arkeologis sebelumnya berupa arca Avalokitesvara bertangan empat setinggi sekitar 192 sentimeter yang memiliki prasasti bertuliskan da? acaryya syuta yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi.

Selain itu, ditemukan pula sebuah arca Buddha yang belum selesai dipahat.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, para peneliti sementara menyimpulkan bahwa masyarakat Bingin Jungut pada masa itu kemungkinan besar menganut agama Buddha aliran Mahayana.

Sementara itu, keberadaan ornamen Kala menunjukkan adanya perpaduan budaya dan kepercayaan Hindu-Buddha yang berkembang di wilayah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Musi Rawas berharap keberadaan benda cagar budaya tersebut dapat terus dijaga dan dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah, pengembangan ilmu pengetahuan, serta menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan sejarah Musi Rawas kepada masyarakat luas.

Ia mengajak kepada masyarakat dan generasi muda Musi Rawas mari kita jaga lestarikan serta bangga dengan budaya daerah sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.