Ia mengaku para sopir sering menghadapi dilema ketika jumlah penumpang belum memenuhi kuota.
Di satu sisi, jika perjalanan dibatalkan, mereka merasa tidak enak kepada penumpang yang sudah memesan sejak jauh-jauh hari.
Namun di sisi lain, jika tetap berangkat dengan penumpang sedikit, biaya operasional seperti bensin dan pengeluaran tak terduga lainnya sering kali tidak tertutupi.
“Kalau tidak berangkat kasihan penumpang yang sudah pesan jauh-jauh hari. Tapi kalau dipaksakan berangkat dengan penumpang sedikit, kami bisa boncos karena biaya bensin dan biaya tak terduga lainnya. Biasanya minimal empat penumpang baru tetap kami berangkatkan,” jelasnya.
Selain tarif, kondisi jalan di beberapa titik yang masih rusak juga menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih moda transportasi.
Pelaku usaha travel berharap jumlah penumpang kembali meningkat, terutama saat musim liburan dan hari-hari besar, serta didukung perbaikan infrastruktur jalan agar perjalanan menjadi lebih nyaman.





