Mereka menjadi bagian dari jaringan edukator sebaya yang diharapkan dapat memperluas penyampaian pesan pencegahan pernikahan anak melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan remaja.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, pendekatan sebaya penting karena remaja cenderung lebih mudah menerima pesan dari teman seusianya.
Komunikasi yang setara dan dekat dengan keseharian membuat edukasi lebih mudah dipahami serta membuka ruang bagi remaja untuk membicarakan persoalan yang mereka hadapi.
“Program Peer Educator ini hadir karena kami di Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, meyakini satu hal penting: bahwa suara sebaya sesungguhnya lebih mudah didengar oleh sebaya,” jelas Abu Rokhmad Rabu 19 Agustus 2026.
“Adik-adik tidak hanya akan dibekali dengan pengetahuan tentang bahaya dan risiko pernikahan usia anak, tentang kesehatan reproduksi, tentang hak-hak anak, maupun tentang keterampilan komunikasi dan konseling sebaya,” sambungnya.
Abu Rokhmad meminta para Peer Educator menjadi pendengar yang baik bagi teman-temannya.
Mereka diharapkan mampu hadir ketika teman sebaya mengalami tekanan, menghadapi persoalan keluarga, atau mendapat dorongan untuk menikah pada usia yang belum semestinya.
“Jadilah pendengar yang baik bagi teman-teman kalian. Jadilah sahabat yang hadir ketika ada teman yang mulai ragu, yang mulai tertekan oleh keadaan, atau bahkan yang mulai dijodohkan atau diarahkan untuk menikah di usia yang belum semestinya,” tuturnya.






