KORANLINGGAUPOS.ID – Nuansa kemerdekaan sangat terasa dilingkungan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Mutiara Cendekia. Sejak 12 Agustus 2026 ragam kegiatan diadakan di SIT Mutiara Cendekia yang berada dibawah Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa dan menaungi TKIT Mutiara Cendekia, SDIT Mutiara Cendekia dan SMPIT Mutiara Cendekia ini.
Ragam lomba terpusat di sekolah yang terletak di Jl Jendral Sudirman, Kelurahan Jogoboyo, Kota Lubuk Linggau, Sumsel.
Selain internal, SDIT Mutiara Cendekia dan SMPIT Mutiara Cendekia juga mengutus siswa siswi mengikuti Lomba Gerak Jalan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Lubuk Linggau.
Dan kabar baiknya adalah, Tim Putra SMPIT Mutiara Cendekia meraih Juara 1 Lomba Gerak Jalan dan Tim Putra SDIT Mutiara Cendekia meraih Juara Harapan 1 se-Kota Lubuk Linggau.
Kabar baik ini menambah semarak Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia yang terpusat di halaman sekolah yang terkenal dengan gedung megah bernuansa pink ini.
Hadir dalam momen khidmat tersebut, Pembina Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa Ir. H. A. Firdaus Azis, MM (Opa Firdaus), Ketua Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa Dra. Med. Vet. Hj. Retno Trapsilowati, MM (Oma Retno), Direktur Pendidikan SIT Mutiara Cendekia Dr. H. Umar Diharja, SP, MAP, M.Psi (Abi Umar), Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa Hj. Isnaeni Machrawinayu, S.Pt, M.Si, Anggota Pengawas Yayasan dr. Fitria Koeshardani, Sp.OG, sejumlah kepala divisi seperti Kepala Divisi TTQ SIT Mutiara Cendekia Ustadz Khuzeni, Kepala SDIT Mutiara Cendekia Adi Sucipto, S.Pd, Kepala SMPIT Mutiara Cendekia Abdiansyah Satria, Kepala TKIT Mutiara Cendekia Bunda Wulan, Ustadz dan Bunda Guru TKIT, SDIT dan SMPIT Mutiara Cendekia.

Direktur Pendidikan SIT Mutiara Cendekia Abi Dr. H. Umar Diharja, SP, MAP, M.Psi, Hj. Isnaeni Machrawinayu, S.Pt, M.Si, dr. Fitria Koeshardani, Sp.OG dan jajaran foto bersama Opa Ir. H. A. Firdaus Azis, MM, Oma Dra. Med. Vet. Hj. Retno Trapsilowati, MM Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
Saat memasuki sasana upacara, para tamu-tamu istimewa ini diiringi oleh Polisi Cilik SDIT maupun SMPIT Mutiara Cendekia.
Dipandu ananda Najwa Thalita (kelas IX.A) sebagai MC, upacara HUT ke-81 Republik Indonesia berlangsung penuh khidmat.

Ananda Syaza Khoirunnisa (IX.A) Pembawa Baki Paskibra SMPIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau menerima Bendera Merah Putih yang diserahkan Direktur Pendidikan SIT Mutiara Cendekia Dr. H. Umar Diharja, SP, MAP, M.Psi, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
Suasana makin hidup saat Danton Pasukan 8 Farrel Gezha Rikhardy (IX. C) dan Danton Pasukan 4 M.Allan Abdul Rozak (IX. A) memimpin Paskibra SMPIT Mutiara Cendekia memasuki lapangan upacara.
Kemudian peserta upacar dibuat terpukau saat Pembawa Baki Syaza Khoirunnisa (IX.A) menjemput duplikat Bendera Merah Putih yang diserahkan Direktur Pendidikan SIT Mutiara Cendekia Dr. H. Umar Diharja, SP, MAP, M.Psi.

Pembina Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa Ir. H. A. Firdaus Azis, MM (Opa Firdaus) dan Ketua Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa Dra. Med. Vet. Hj. Retno Trapsilowati, MM (Oma Retno).
Upacara terasa penuh semangat kemerdekaan ketika M. Satria Wawanto (IX. A), Ferdi Herdias (IX. A) dan Marcello Dzaky Candra (IX. A) menyatakan bendera siap dikibarkan. Kemudian Tim Marching Band SMPIT Mutiara Cendekia mengiringi penaikan bendera dengan ‘Lagu Indonesia Raya’.

Master Ceremony ananda Najwa Thalita dan Pembaca UUD 1945 ananda Najwa Zhifara dalam Upacara HUT ke-81 RI di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia –
Setelah sukses bendera dikibarkan, Dr. H. Umar Diharja, SP, MAP, M.Psi dalam amanatnya sebagai Pembina Upacara mengajak keluarga besar SIT Mutiara Cendekia mensyukuri nikmat kemerdekaan ini.

Polisi Cilik dengan gagah dan percaya diri mengiringi masuknya Pengurus Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
” Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, jangan hanya membayangkan perjuangan para pahlawan yang mengangkat senjata. Kemerdekaan yang sesungguhnya juga berbicara tentang perjuangan kita hari ini. Dulu para pahlawan berjuang melawan penjajahan. Hari ini, kita mempunyai penjajahan dalam bentuk yang berbeda. Kita harus melawan kemalasan, ketidakdisiplinan, kecanduan gadget, budaya instan, mudah menyerah, perundungan, egoisme, dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu tanpa melalui proses,” tuturnya.

Polisi Cilik dengan gagah dan percaya diri mengiringi masuknya Pengurus Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin 17 Agustus 2026.- Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
Hari ini, lanjut Abi Umar, kita hidup di zaman yang luar biasa. Dengan satu sentuhan layar, kita bisa mendapatkan ilmu dari seluruh dunia.

Para pemimpin regu (pinru) menyampaikan laporan pada Pemimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026.- Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
Tetapi ironisnya, di tengah begitu banyak ilmu, kadang kita justru semakin malas membaca.
“Kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja melalui media sosial, tetapi terkadang semakin sulit berbicara dengan orang yang ada di depan kita. Kita bisa melihat kehidupan orang lain setiap hari melalui layar, tetapi lupa mensyukuri kehidupan yang sedang kita jalani. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah ketika jumlah likes mulai dianggap lebih penting daripada nilai diri, viral dianggap lebih penting daripada benar, dan penampilan dianggap lebih penting daripada karakter,” tuturnya lagi.

Ananda Kgs. Hisyam sukses menjalan tugas sebagai Pemimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
Karena itu anak-anakku, Abi Umar mengingatkan, jangan sampai kalian menjadi generasi yang hebat menggunakan teknologi, tetapi lemah mengendalikan diri.

Danton pasukan 8 Farrel Gezha Rikhardy (IX. C) dan Paskibra SMPIT Mutiara Cendekia menunaikan tugas Pengibaran Bendera HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia-
” Jangan sampai kalian pintar menggunakan AI, tetapi tidak mampu berpikir sendiri. Jangan sampai kalian memiliki banyak teman di dunia maya, tetapi kehilangan kemampuan untuk menghargai teman di dunia nyata. Dan jangan sampai kalian mengejar kesuksesan dengan mengorbankan kejujuran. Kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah kemampuan untuk memilih yang benar, meskipun tidak ada yang memaksa kita,” terangnya.

Tim Paskibra SMPIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau sukses menunaikan tugas Pengibaran Bendera HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia –
Itulah sebabnya, lanjut Abi Umar, sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan nilai.
Sekolah adalah tempat untuk belajar menjadi manusia.
Belajar disiplin.
Belajar bertanggung jawab.
Belajar menghargai orang lain.
Belajar menerima kekalahan.
Belajar bangkit ketika gagal.
Dan belajar bahwa keberhasilan tidak pernah datang hanya karena keberuntungan.

Pengibaran Bendera HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau oleh M. Satria Wawanto (IX. A), Ferdi Herdias (IX. A) dan Marcello Dzaky Candra (IX. A) Senin 17 Agustus 2026.- Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia –
“Anak-anakku, Kalau hari ini kalian mengikuti lomba dan menang, jangan menjadi sombong. Kalau kalian kalah, jangan berkecil hati. Karena dalam kehidupan, tidak semua orang akan mendapatkan medali. Tetapi setiap orang bisa mendapatkan pelajaran. Kadang kemenangan mengajarkan kita tentang rasa percaya diri. Tetapi kekalahan mengajarkan kita tentang ketangguhan. Dan saya ingin kalian menjadi anak-anak yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi kuat secara mental, baik akhlaknya, matang emosinya, dan besar kepeduliannya kepada sesama,” harap Abi Umar.
Kepada para Bunda dan Ustadz, Abi Umar mengatakan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tugas kita semakin berat.

Penampilan memukau Marching Band SMPIT Mutiara Cendekia mensukseskan Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026. -Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia –
“Anak-anak hari ini tidak hanya belajar dari guru. Mereka belajar dari YouTube, TikTok, Instagram, game, influencer, dan berbagai informasi yang mereka temui setiap hari. Karena itu, keteladanan guru menjadi semakin penting. Anak-anak mungkin lupa apa yang kita ajarkan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Mereka mungkin lupa materi pelajaran yang kita sampaikan. Tetapi mereka akan mengingat guru yang pernah membuat mereka percaya bahwa dirinya mampu. Maka mari kita menjadi guru yang tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi mendidik dengan keteladanan. Jika kita ingin anak disiplin, mari kita menjadi orang dewasa yang disiplin. Jika kita ingin anak jujur, mari kita menjadi pribadi yang jujur. Jika kita ingin anak menghargai orang lain, mari kita terlebih dahulu menghargai mereka. Karena pendidikan yang paling kuat bukanlah apa yang kita katakan kepada anak-anak. Pendidikan yang paling kuat adalah apa yang mereka lihat dari diri kita setiap hari,” imbuhnya.

Ananda Fariz Azzam pembaca doa dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau, Senin 17 Agustus 2026. Foto: Dok. SIT Mutiara Cendekia —
“Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengkritik. Indonesia membutuhkan generasi yang mau bekerja, mau belajar, mau berproses, dan mau bertanggung jawab. Indonesia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pintar. Indonesia membutuhkan anak-anak yang berkarakter,” tegasnya lagi.
Kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan para pahlawan dengan darah dan air mata jangan kita balas dengan kemalasan.
“Jangan kita isi dengan pertengkaran. Jangan kita isi dengan saling merendahkan. Jangan kita isi dengan kehilangan arah karena teknologi. Mari kita isi kemerdekaan dengan prestasi, disiplin, ilmu, akhlak, persaudaraan, dan karya. Kalau para pahlawan dahulu bertanya, “Apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia?” Maka hari ini kita juga harus bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang sudah saya lakukan untuk menjadi bagian dari Indonesia yang lebih baik?” Mulailah dari hal kecil. Datang tepat waktu. Menghormati guru. Menyayangi teman. Merapikan lingkungan. Belajar dengan sungguh-sungguh. Berani meminta maaf. Berani berkata benar. Dan berani menjadi baik meskipun tidak ada yang melihat. Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah tentang kemampuan kita untuk membebaskan diri dari segala sesuatu yang membuat kita tidak menjadi manusia terbaik,” tuturnya lagi.





