“Wilayah Musi Rawas ini berada di dataran rendah, sehingga petani harus memilih varietas alpukat yang sudah terbukti produktif di MDPL rendah,” ungkap Joni.
Ia menjelaskan, hasil panen dari kebun miliknya saat ini masih dipasarkan di wilayah lokal. Meski demikian, permintaan pasar terus meningkat dan seluruh hasil panen selalu habis terjual.
Harga alpukat ditingkat penjual saat ini berkisar antara Rp25.000 hingga Rp35.000 per buah, bergantung pada ukuran serta kualitas buah. Tingginya harga tersebut menjadi salah satu alasan alpukat memiliki nilai ekonomi yang menguntungkan untuk dibudidayakan.
Joni menambahkan, dengan perawatan yang baik, alpukat varietas Mickey sudah mulai belajar berbuah pada usia sekitar 2 hingga 2,5 tahun. Sementara produksi optimal biasanya mulai dicapai ketika tanaman berumur sekitar tiga tahun.
Dalam perawatannya, petani juga harus mewaspadai sejumlah hama dan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Di antaranya kutu kebul dan jamur daun yang menyerang bagian daun, serta kanker batang dan jamur akar putih yang menyerang batang maupun sistem perakaran.
“Untuk hama di daun bisa menggunakan insektisida kontak atau lambung yang banyak dijual di toko pertanian. Sedangkan untuk jamur batang dan akar juga sudah tersedia obatnya, asalkan rutin dikontrol,” jelasnya.
Menurut Joni, peluang pengembangan alpukat di Musi Rawas masih sangat terbuka lebar. Selama ini kebutuhan alpukat di Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau sebagian besar masih dipasok dari luar daerah, seperti Kerinci, Provinsi Jambi, dan Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.
Dengan kondisi tersebut, ia optimistis budidaya alpukat lokal mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sekaligus meningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Musi Rawas.







