KORANLIPOS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak buruk terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak. Buruknya kualitas udara akibat asap karhutla bahkan membuat sejumlah sekolah di wilayah Kalimantan dan Sumatera terpaksa meliburkan kegiatan pembelajaran.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sekitar 54.743 satuan pendidikan dengan lebih dari 6 juta murid berpotensi terpapar dampak karhutla.
Untuk melindungi peserta didik dari paparan asap, Kemendikdasmen telah mengeluarkan Surat Edaran yang mengatur langkah satuan pendidikan dalam menghadapi kondisi udara yang memburuk.
Melalui aturan tersebut, satuan pendidikan diperbolehkan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) maupun meliburkan pembelajaran tatap muka. Penetapan moda pembelajaran disesuaikan dengan kondisi kualitas udara berdasarkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian di tingkat kabupaten/kota.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mengambil sejumlah langkah untuk melindungi masyarakat dari dampak asap karhutla.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah telah mengirim lebih dari 5 juta masker ke wilayah terdampak. Selain masker, Kemenkes juga menyalurkan oksigen konsentrator untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.







