Ia mencontohkan kondisi kelas I yang berisi 32 siswa dengan satu orang guru.
Dalam kondisi tersebut, proses identifikasi kebutuhan masing-masing anak tentu membutuhkan perhatian dan waktu.
Meski demikian, Januria mengaku tetap senang menjalankan tugas sebagai guru inklusi.
Menurutnya, keberadaan siswa dengan kebutuhan berbeda justru menjadi pengalaman bagi guru untuk terus belajar dan mencari pendekatan yang tepat.
BACA JUGA : IHT GURUpreneur SMANPA 2026, Dari Ide Menjadi Aksi: Berinovasi, Berkarya, dan Berdampak
“Walaupun banyak tantangannya, saya senang. Anak-anak itu saya welcome. Kita belajar memahami mereka,” ujarnya.
Ia berharap pemahaman mengenai pendidikan inklusif semakin luas, sehingga sekolah dan guru tidak lagi melihat siswa hanya berdasarkan kondisi fisik.
Anak dengan kesulitan belajar, hiperaktif, disleksia maupun anak dengan bakat istimewa juga membutuhkan pendekatan yang sesuai.
“Intinya kita memahami kebutuhan anak dengan baik. Karena setiap anak itu berbeda-beda,” jelasnya.






