Jika anak lebih tertarik pada gambar, metode pembelajaran kemudian disesuaikan dengan minat tersebut.
“Misalnya dia sukanya gambar. Kita kasih gambar. Kalau pelajarannya IPA, kita cari bagaimana menghubungkan materi IPA dengan gambar. Jadi kita harus mencari tahu kebutuhan anak,” katanya.
Menurut Januria, proses identifikasi menjadi langkah penting sebelum menentukan metode pembelajaran.
Guru dapat melihat profil siswa, kondisi medis, kebutuhan belajar serta karakteristik anak.
Ia menambahkan, tugas guru inklusi bukan hanya menangani siswa secara langsung.
Guru inklusi juga berperan sebagai pendamping bagi guru kelas agar mampu memahami dan menangani siswa yang memiliki kebutuhan khusus.
“Tidak mungkin saya sendiri menangani semua rombel. Jadi guru kelas juga harus memahami anaknya. Dibaca dulu apa kendalanya, apa kebutuhannya dan bagaimana karakteristiknya,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam penerapan pendidikan inklusif adalah keterbatasan waktu dan jumlah guru.







