Anak Inklusif Bukan Berarti Cacat, Guru SDN 49 Lubuk Linggau Ungkap Tantangan di Kelas

oleh -24 Dilihat
Guru inklusi SDN 49 Lubuk Linggau, Januria, S.Pd., saat mendidik siswa siswinya. Foto: Mukmin Hidayat/Linggau Pos.

Jika anak lebih tertarik pada gambar, metode pembelajaran kemudian disesuaikan dengan minat tersebut.

“Misalnya dia sukanya gambar. Kita kasih gambar. Kalau pelajarannya IPA, kita cari bagaimana menghubungkan materi IPA dengan gambar. Jadi kita harus mencari tahu kebutuhan anak,” katanya.

Menurut Januria, proses identifikasi menjadi langkah penting sebelum menentukan metode pembelajaran.

Guru dapat melihat profil siswa, kondisi medis, kebutuhan belajar serta karakteristik anak.

BACA JUGA : Dosen UNPARI Latih Guru SDIQ Ar-Risalah Integrasikan AI, Teknologi Digital, & Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Matematika

Ia menambahkan, tugas guru inklusi bukan hanya menangani siswa secara langsung.

Guru inklusi juga berperan sebagai pendamping bagi guru kelas agar mampu memahami dan menangani siswa yang memiliki kebutuhan khusus.

“Tidak mungkin saya sendiri menangani semua rombel. Jadi guru kelas juga harus memahami anaknya. Dibaca dulu apa kendalanya, apa kebutuhannya dan bagaimana karakteristiknya,” tuturnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penerapan pendidikan inklusif adalah keterbatasan waktu dan jumlah guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.