Yakni sekolah yang terdampak bencana, mengalami kerusakan berat, serta satuan pendidikan yang berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kebijakan revitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kondisi sarana dan prasarana pendidikan yang masih membutuhkan penanganan di berbagai daerah.
Di Jawa Timur, pemerintah daerah menyambut rencana revitalisasi tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi sekolah di daerah penting untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran.
BACA JUGA : SMAN Tugumulyo Borong Juara Lomba Lukis dan Fotografi, Ingatkan Kita Bahwa Bumi ini Perlu Dijaga
Berdasarkan data yang dikirim Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sasaran revitalisasi di provinsi tersebut mencakup 324 sekolah menengah atas (SMA), 208 sekolah menengah kejuruan (SMK), dan 141 sekolah luar biasa (SLB).
“Sesuai dengan data yang kami kirim berdasarkan data Dapodik ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, alhamdulillah SMA tahun ini mendapat 324, SMK sekitar 208, dan SLB 141,” kata Aries.
Namun, kebutuhan revitalisasi di Jawa Timur masih lebih besar dibandingkan alokasi yang diterima.
Dinas Pendidikan Jawa Timur kembali mengusulkan 24 SMA, lebih dari 100 SMK, dan 48 SLB yang berdasarkan hasil peninjauan lapangan masih membutuhkan penanganan.





