“Untuk Kota Lubuk Linggau saat ini tidak terdapat hotspot. Namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap dampak kualitas udara yang sedang memburuk, terutama kelompok yang rentan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya kualitas udara di Kota Lubuk Linggau sempat berada di bawah angka 100 yang menunjukkan kondisi relatif lebih baik.
Bahkan dalam beberapa waktu terakhir wilayah tersebut juga mengalami hujan.
“Namun, kondisi kualitas udara kembali mengalami peningkatan indeks hingga mencapai angka 156,” katanya.
BACA JUGA : Pasca Kabut Asap, Mulai 23 September KBM di Lubuk Linggau Kembali Normal
Ardi menilai perubahan kualitas udara tersebut menunjukkan kondisi yang bersifat fluktuatif dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pergerakan massa udara dari luar daerah.
Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara dan cuaca, sumber pencemar yang memengaruhi kondisi udara saat ini tidak berasal dari Kota Lubuk Linggau.
Sementara itu, data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan yang diperbarui pada Jumat 2 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB mencatat sebanyak 3.059 titik panas (hotspot) terdeteksi dalam 24 jam terakhir di berbagai kabupaten dan kota.
Sebagian besar titik panas tersebut berada di lahan gambut, yakni sebanyak 2.062 titik, sedangkan 997 titik lainnya terpantau di lahan mineral.







