Untuk menuju lokasi, pengunjung disarankan memarkir kendaraan di pekarangan rumah warga di tepi jalan raya.
Kondisi jalan tanah menuju Lorong Watu cukup menantang, terutama saat hujan karena licin dan berlumpur.
Selain berenang, pengunjung dapat menyusuri bagian atas lorong hingga ke ujung, di sana terdapat susunan batu menyerupai tempat duduk alami yang tertata rapi.
Suasana sejuk tanpa polusi membuat pengalaman semakin berkesan, bahkan dari komunitas lokal di bawah naungan Karang Taruna Kelurahan Kemumu kerap memanfaatkan lokasi ini untuk kegiatan berselancar air.
BACA JUGA: Murah dan Menenangkan, Begini Keseruan Wisatawan Berlibur di Mountain Valley Kabawetan
Nama Lorong Watu berasal dari bahasa Jawa, lorong berarti jalan atau celah panjang, sedangkan watu berarti batu.
Penamaan ini sesuai dengan bentuk alaminya, yakni jalur sungai yang diapit susunan bebatuan besar menyerupai lorong batu.
Meski menyenangkan, pengunjung disarankan tidak terlalu lama bermain air, pasalnya suhu air gunung yang dingin serta suara derasnya air terjun yang memantul dari tebing bisa membuat tubuh cepat lelah atau telinga terasa sakit.
Namun, perjalanan menyusuri lorong akan mengantarkan wisatawan ke air terjun indah yang meski tidak terlalu tinggi, tetap memikat hati.







