Pola pikir GURUpreneur tidak semata-mata diarahkan pada kegiatan berdagang, tetapi lebih luas sebagai cara berpikir yang mampu melihat masalah sebagai peluang untuk menghadirkan solusi.
Inovasi tidak harus selalu menggunakan teknologi canggih atau membutuhkan biaya besar. Inovasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di lingkungan sekolah.
Bahkan, kegagalan dalam proses mencipta dapat dijadikan sebagai pengalaman dan bahan pembelajaran untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah memilih satu masalah, mengubah gagasan menjadi karya, kemudian memastikan karya tersebut memberikan manfaat nyata.
BACA JUGA : SMAN Tugumulyo Borong Juara Lomba Lukis dan Fotografi, Ingatkan Kita Bahwa Bumi ini Perlu Dijaga
Dalam proses tersebut, guru berperan sebagai penggerak, inspirator, dan pembimbing agar kreativitas serta keberanian siswa untuk berkarya dapat terus berkembang.
Tidak hanya menerima materi secara teori, para guru juga mengikuti kegiatan praktik dan unjuk kerja inovasi serta kewirausahaan melalui lembar Innovation Canvas.
Melalui kegiatan tersebut, peserta mengidentifikasi masalah atau potensi yang ada, menyusun ide solusi, menentukan bentuk karya, manfaat, sumber daya yang diperlukan, serta dampak yang diharapkan.
Kegiatan praktik ini menjadi ruang bagi guru untuk mengembangkan gagasan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran maupun dikembangkan menjadi karya nyata di lingkungan SMAN 4 Lubuk Linggau.







