Ada masa ketika kawasan Air Mancur Batu Putih dipenuhi wisatawan. Masyarakat dari berbagai wilayah di Musi Rawas datang untuk melihat langsung fenomena alam yang terbilang langka tersebut.
Bagi warga sekitar, ramainya wisatawan bukan hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga membuka peluang ekonomi.
Namun, masa itu perlahan berlalu. Kini, Air Mancur Batu Putih lebih banyak menyisakan cerita tentang kejayaannya. Pengunjung semakin jarang datang, sementara sejumlah fasilitas pendukung wisata mulai rusak karena usia dan kurangnya perawatan.
“Kalau sekarang sudah sepi dan bahkan tak lagi dikunjungi wisatawan. Banyak fasilitas yang sudah rusak karena dimakan usia,” ungkapnya.
Perubahan itu terasa kontras dengan potensi alam yang masih dimiliki kawasan tersebut.
Gundukan batu kapur tetap menjadi daya tarik visual. Cerita sejarahnya juga menyimpan nilai tersendiri. Ditambah fenomena semburan air yang mengandung kapur dan belerang, Air Mancur Batu Putih sebenarnya memiliki modal untuk kembali dikembangkan sebagai destinasi wisata alam.
Perjalanan menuju Air Mancur Batu Putih memang tidak singkat. Dari pusat pemerintahan Kabupaten Musi Rawas di Muara Beliti, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 2,5 hingga 3 jam.
Jarak tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan kawasan wisata.






