KORANLIPOS.COM – Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Ketersediaan air menjadi tantangan utama para petani, kelembapan tanah menurun, dan risiko stres tanaman meningkat.
Namun dikutip dari mitra tani, di balik tantangan tersebut ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Untuk menghadapi kondisi kemarau yang cenderung lebih kering ini, penggunaan mikroba atau jamur baik menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan dan ketahanan tanaman. Dua jenis jamur yang sangat direkomendasikan adalah Trichoderma dan Mikoriza.
Menghadapi musim kemarau, penggunaan jamur baik menjadi kunci penting dalam menjaga produktivitas tanaman cabai. Dua mikroba yang wajib diperhatikan petani adalah Trichoderma dan Mikoriza, karena keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung kesehatan tanaman.
Trichoderma dikenal sebagai agen hayati yang berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan penyakit tular tanah, seperti layu fusarium dan patek akar.
Jamur ini bekerja dengan cara menekan perkembangan patogen melalui kompetisi ruang dan nutrisi, serta menghasilkan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit.
Tidak hanya itu, Trichoderma juga mampu merangsang pertumbuhan akar dan meningkatkan sistem imun tanaman. Dalam budidaya cabai di musim kemarau, peran Trichoderma sangat penting sebagai sistem pertahanan awal. Artinya, sejak awal tanam tanaman sudah dibekali perlindungan, sehingga ketika memasuki musim hujan yang umumnya meningkatkan risiko serangan penyakit tanaman tetap kuat dan lebih tahan terhadap infeksi.
Di sisi lain, Mikoriza berperan besar dalam membantu tanaman menghadapi kondisi kekurangan air. Jamur ini hidup bersimbiosis dengan akar tanaman dan membentuk jaringan hifa yang mampu menjangkau area tanah lebih luas dibandingkan akar biasa.
Dengan bantuan Mikoriza, tanaman dapat menyerap air dan unsur hara, terutama fosfor, secara lebih efisien meskipun kondisi tanah kering. Inilah yang menjadikan Mikoriza sangat efektif diaplikasikan pada musim kemarau, karena mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres kekeringan.
Mengetahui waktu aplikasi yang tepat menjadi kunci agar Trichoderma dan Mikoriza dapat bekerja secara maksimal di lapangan. Keduanya memang sama-sama jamur baik, tetapi memiliki cara kerja dan waktu aplikasi yang berbeda. Trichoderma paling ideal diaplikasikan saat tahap olah lahan.
Pada fase ini, populasi mikroba patogen di dalam tanah masih relatif rendah, sementara bahan organik baru mulai ditambahkan. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi Trichoderma untuk berkembang dan melakukan kolonisasi lebih awal. Dengan aplikasi sejak awal, Trichoderma memiliki kesempatan lebih besar untuk mendominasi ruang di sekitar perakaran sebelum mikroba jahat berkembang.
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Jangan mengaplikasikan Trichoderma pada tanah yang terlalu kering karena akan menghambat pertumbuhannya, dan hindari juga kondisi tanah yang terlalu lembab atau becek karena dapat mengganggu keseimbangan mikroba.
Selain itu, penting untuk tidak mengaplikasikan Trichoderma sehari setelah penggunaan fungisida kimia, karena residu fungisida dapat membunuh atau menekan pertumbuhan Trichoderma itu sendiri.
Sementara itu, Mikoriza memiliki waktu aplikasi terbaik saat penanaman, baik saat penyemaian maupun saat pindah tanam. Prinsip utamanya adalah memastikan Mikoriza berada sedekat mungkin dengan akar tanaman, karena jamur ini membutuhkan kontak langsung untuk membentuk simbiosis.







