Oleh karena itu, aplikasi sebaiknya dilakukan pada hari yang sama dengan penanaman. Jika tanaman sudah terlanjur ditanam, Mikoriza tetap bisa diaplikasikan, meskipun efektivitasnya tidak seoptimal aplikasi awal. Caranya adalah dengan membuat lubang kecil miring ke arah akar, lalu memasukkan Mikoriza agar dapat bertemu dengan sistem perakaran.
Mikoriza bekerja paling optimal pada akar muda, sehingga semakin cepat diaplikasikan, hasilnya akan semakin baik. Perlu diingat, Mikoriza tidak dianjurkan dicampur dengan air saat aplikasi, karena dapat mengurangi efektivitasnya. Lalu, apakah Trichoderma dan Mikoriza bisa diaplikasikan bersamaan? Jawabannya, boleh dan bisa.
Namun secara ideal, Trichoderma tetap diaplikasikan saat olah lahan, sedangkan Mikoriza diberikan saat penanaman. Dengan pengaturan waktu yang tepat, keduanya dapat bekerja secara sinergis, Trichoderma melindungi dari serangan penyakit, sementara Mikoriza membantu tanaman menyerap air dan hara secara optimal.
Musim kemarau bukan alasan untuk menurunkan produktivitas, justru bisa menjadi momentum untuk menyusun strategi budidaya yang lebih cerdas. Dengan memanfaatkan Trichoderma dan Mikoriza secara tepat, petani tidak hanya mampu melindungi tanaman dari serangan penyakit, tetapi juga memperkuat daya tahan terhadap kekeringan. Keduanya bekerja dari dalam tanah, membangun fondasi kesehatan tanaman sejak awal pertumbuhan. Kunci keberhasilannya terletak pada ketepatan waktu aplikasi dan cara penggunaan.
Saat Trichoderma berkembang lebih dulu di lahan, dan Mikoriza langsung bersimbiosis dengan akar sejak tanam, maka tanaman cabai memiliki bekal yang kuat hingga masa panen. Terlebih jika tanam dilakukan di awal kemarau, hasil panen berpotensi didapat saat kondisi mulai memasuki musim hujan. Dengan langkah sederhana namun tepat ini, petani bisa tetap produktif, bahkan di tengah tantangan musim yang semakin tidak menentu.






