Bayi Sering Muntah Wajar, Namun Kondisi Tertentu Bunda Wajib Waspada !

oleh -10 Dilihat
Penyebab bayi muntah lainnya yang patut diwaspadai adanya penyakit serius seperti meningitis, infeksi saluran kemih, atau usus buntu.
Penyebab bayi muntah lainnya yang patut diwaspadai adanya penyakit serius seperti meningitis, infeksi saluran kemih, atau usus buntu.

Intoleransi susu juga bisa menjadi penyebab bayi sering muntah. Kondisi ini terjadi karena bayi sulit mencerna laktosa yang terdapat pada susu sapi. Pasalnya, bayi tidak memiliki enzim pencernaan yang cukup untuk mencerna laktosa.

Stenosis pilorus disebabkan oleh penebalan otot pengontrol katup yang mengarah dari lambung ke usus. Hal ini membuat makanan dan susu tidak dapat mengalir ke usus, sehingga tetap tertahan di lambung atau malah naik ke kerongkongan.

Stenosis pilorus biasanya terjadi dalam waktu 30 menit setelah makan. Kondisi ini umumnya dialami oleh bayi berusia sekitar 6 minggu, tetapi juga bisa terjadi kapan saja sebelum usianya mencapai 3 bulan.

Penyebab lainnya yang patut diwaspadai, adanya penyakit serius. Bayi sering muntah juga bisa menjadi gejala meningitis, infeksi saluran kemih, atau usus buntu. Perlu waspada jika bayi sering muntah disertai dengan demam, lemas, tidak mau minum, atau sesak napas.

Lalu bagaimana cara mengatasinya ?

Bayi sering muntah, terutama setelah makan atau menyusui, cukup diatasi dengan membantunya bersendawa. Untuk melakukannya, bisa menggendong bayi dalam sekitar 30 menit setelah ia makan.

Pastikan bayi kalian berada dalam posisi tegak ketika digendong, sehingga dagunya bersandar pada bahu Bunda. Topang kepala Si Kecil dengan salah satu tangan Bunda, sedangkan tangan Bunda yang lain menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

Bisa juga dengan suapi anak dengan makanan secara perlahan, bila sudah mulai MPASI. Jika Si Kecil muntah disertai diare, gantikan cairan yang hilang dengan memberikannya oralit. Namun, pemberian oralit ini sebaiknya atas instruksi dokter.

Apabila bayi sering muntah setelah diberi susu formula, ganti susu tersebut dengan susu formula dari kacang kedelai (susu soya) atau susu formula khusus yang tidak mengandung laktosa. Namun, susu soya sebaiknya tidak diberikan kepada bayi berusia kurang dari 6 bulan atau tanpa pengawasan dokter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.